Alasan Bertahan Hidup Yang Masuk Akal

Pada polling di Instagram lalu, saya coba bertanya follower saya mengenai argumen untuk selalu bertahan hidup. Dengan ketetapan, argumen menyinggung agama tidak dikenankan.

Kenapa?

Simpelnya bagaimana juga, jika sudah menyinggung keyakinan susah untuk didebat. Karena tidak seluruhnya orang mempunyai keyakinan yang sama. Walaupun bisa jadi selainnya agama Islam ada yang larang sikap ini.

Ada bermacam argumen yang masuk. Ada yang aneh, ada juga yang menjawab dengan benar-benar serius. Nach, dibanding kebingungan, jawaban-jawaban yang masuk akan saya sortir berdasar kelompok alasannya.

“Jika gak hidup gabisa rasakan enaknya Indomie”

“Banyak makanan nikmat”

“Ingin jalanan dan menelusuri”

“Kasian sama keluarga”

“Menanti jodoh”

“Balas budi ke beberapa orang paling dekat”

“Ada banyak rencana yang belum kesampaian”

“Ingin tahu sama masa datang”

“Sedang berusaha merealisasikan harapan”

“Masih mencari arah hidup”

“Meneruskan mimpi yang belum selesai”

“Hidup untuk share dan mengajari kebaikan”

“Kehidupan ada untuk

“Bunuh diri itu sakit”

“Hidup ya hidup”

“Hidup tidak perlu argumen”

“Mensyukuri dikasih kehidupan”

“Supaya mati dengan tenang”

“Untuk menunjukkan duka cita bisa juga buat berbahagia, dan kebalikannya”

Dari sisi sulitnya argumen seorang untuk akhiri hidup, ternyata ada banyak argumen yang lain buat kita tetap harus survive. Yang diperlukan hanya support berbentuk apa saja pada rekan-rekan yang diperkirakan mempunyai tanda-tanda untuk bunuh diri.

Karena bunuh diri tidak menuntaskan permasalahan, tetapi memendam permasalahan dalam-dalam. Karena pada akhirannya, tidak ada yang betul-betul tahu akar permasalahannya, terkecuali ia sendiri yang buka mulut dengan sejujur-jujurnya.

Ketakmampuan seorang meredam berat hidup jadi argumen seorang bunuh diri. Ditambahkan lagi tidak ada sahabat atau famili yang dapat dibawa untuk tukar pikiran. Kalaulah tidak dapat memberi jalan keluar, jadi pendengar yang bagus tanpa memojokkan atau mendiskreditkan kota ialah solusinya.

Saya sendiri masih berusaha keras untuk menjadi pendengar yang baik. Walaupun realitanya prosesnya benar-benar susah. Saya condong lebih sukai menceritakan daripada harus dengarkan seseorang menceritakan berjam-jam. Apa lagi, bila topiknya tidak saya sukai.

Pada seri 13 Reasons Why yang tampil di basis Netflix, ada sosok gadis namanya Hannah Baker. Dia wafat ironis dengan darah bercucur di urat nadi tangan kirinya. Lacak punyai lacak, ternyata dia ngotot bunuh diri sesudah demikian lama meredam beratnya berat hidup.

Tidak semata-mata beban dari beberapa temannya yang lakukan penghinaan padanya, tetapi juga dari orang tuanya sebagai figur paling dekat Hannah.

Sebetulnya figur Hannah yang dilukiskan di seri ini bukan Hannah yang kurang kuat. Dia sudah berusaha untuk dapat bangun dari beragam permasalahan yang menerpanya. Tetapi, semesta seakan tidak memberikan dukungan usaha Hannah.

Narasi Hannah dipandang fiktif, ketakutannya dipandang tidak berargumen, dan tuduhannya pada orang yang lain melukainya dipandang berlebihan. Bahkan juga oleh Clay rekan paling dekatnya sekalinya. Tidak sangsi bila Hannah putuskan mengakhiri hidupnya dengan demikian.

Menariknya, seri 13 Reasons Why ini sanggup memberi deskripsi yang sesuai keinginan seorang yang putuskan bunuh diri.

Kenapa?

Ini karena kematian Hannah betul-betul disesalkan semuanya orang paling dekatnya sampai ada perasaan bersalah tidak berkesudahan. Saya pikir berikut yang dicita-citakan seorang aktor bunuh diri yang di dunia riil belum pasti demikian.

Yang bila masa datang saya juga memilih untuk bunuh diri, argumen khusus saya ialah supaya seseorang menyesali sudah mereka lakukan ke saya yang telah sia-siakan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.