Tips Dan Cara Travling Di New Normal

Panduan Traveling di Zaman New Normal Juli 20, 2020 Semenjak negara api serang dan Limitasi Sosial dalam Bertaraf Besar atau PSBB, ringkas aktivitas melancong ke satu tempat ke arah tempat lain entahlah itu untuk traveling atau masalah tugas juga jadi ambyar. Selamat tinggal berlibur. Cuti juga harus diperjuangkan, apa lagi untuk ASN seperti saya. Boro-boro cuti, perjalanan dinas saja penuh pemikiran.

Bukan apapun, persyaratan untuk lakukan perjalanan entahlah itu masalah individu atau dinas membutuhkan beberapa document yang penting dipersiapkan. Itu pasti memerlukan ongkos. Ya alhamdulillah bila perjalanan itu untuk masalah dinas kantor. Automatis dapat masuk ke ongkos perjalanan dinas karena berdasar surat pekerjaan. Terbayang bila ini masalah individu seperti traveling. Tentu saja pikir-pikir dulu.

Awalnya bulan Juli 2020 ini Saya ditugaskan perjalanan dinas ke kota Gorontalo Propinsi Gorontalo. Suka, iyah tentu! Tetapi rupanya ada banyak hal yang penting saya harus ditempuh dan persiapkan. Menurut saya, ini juga penting untuk rekan-rekan kenali. Apa kah itu?

5 Hal yang Perlu Disiapkan Saat Traveling di Zaman New Normal

  1. Surat Info Hasil Rapid Tes

Rapid Tes nya dapat dilaksanakan di Rumah Sakit. Saya saat itu lakukan Rapid Tes di Rumah Sakit Partner Mamuju dengan ongkos Rp.460.000. Muaaahal yaa! Iyah! Pertama, petugas ambil darah sekitar 1 ampul dan saya harus menyerahkan KTP asli. Bila hasil rapid tes dipandang reaktif, harus tes swab yang tentu saja ongkosnya tambah mahal dan waktu untuk memperoleh hasilnya lebih lama. Alhamdulillah, hasil rapid tes saya negatif jadi saya tidak perlu di swab test. Hasil rapid tes dan surat penjelasannya usai lebih kurang satu jam.

Surat ini dibutuhkan sekali, apa lagi bila perjalanannya memakai pesawat. Untuk Gagasan pergi dari Mamuju hari Jumat larut malam melalui darat karena harus ke Makassar memburu pesawat siang esok harinya ke Gorontalo. Memiliki arti ada tiga pos Gugusan Pekerjaan yang perlu saya lalui. Pos Gugusan Pekerjaan di kota Polman, tepian propinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Ke-2 di Pos Gugusan Pekerjaan kota Pare-Pare di Propinsi Sulawesi Selatan dan yang ke-3 di Lapangan terbang Sultan Hasanuddin saat sebelum cek in. Dengan surat ini, dapat disebut 50% dari proses perjalanan di zaman new normal telah dikantongi.

  1. Legalisir Surat Info Hasil Rapid Tes

Apa sesudah mempunyai Surat Info Hasil Rapid Tes kita bisa melangkah dengan bebasnya? Nanti dulu Ferguso! Walau di surat info itu telah ada tanda-tangan dokter dan penanggung jawab di dalam rumah sakit tempat kita mengecek, surat info itu harus di legalisir di posko Gugusan Pekerjaan. Ada stempel, ada paraf, perlu ngantri. Tidak ribet-ribet sekali sich, hanya ngantrinya itu loh. Telah panjang, ramai dan terkadang beberapa orang yang ingin melegalisir tidak tahu ngantri dengan aturan baru. Menjaga jarak mas bro…!! Tidaklah aneh tentara perlu di turunkan untuk mengatur antrean.

  1. Mempunyai Account di Program eHAC Indonesia

Inilah yang paliiiiiingggggg memerlukan waktu selainnya legalisir surat keteranga hasil rapid test. Program eHAC Indonesia atau elektronik Indonesia Health Alert Card. Tiap penumpang penerbangan diharuskan isi data diri dan data perjalanan dari dan ke arah mana lewat program ini. Untuk calon penumpang yang tidak gatek sich dapat dengan cepat dan gampang. Toh dapat diisi saat sebelum datang di bandara.

Sementara untuk orang berjalan dari zaman penjajahan, masalah program di handphone dapat memerlukan waktu lama selainnya kurang paham. Di lapangan terbang Gorontalo, petugasnya masih ingin membantuin isi data di program. Tapi di lapangan terbang Hasanuddin Makassar, saat sebelum masuk ke antrean tentara yang bekerja telah mengecek dan tidak menolong isi program Cuman memberikan perintah harus download di mana. Bekasnya ya sama sesuai kekuatan Anda.

Saya mengucapkan syukur walau berumur 42, saya tidak gagap teknologi gaptek sangat dan masih gesit untuk masalah technology. Sehubungan saat perjalanan dinas saya bersama kelompok di mana saya yang paling muda, pada akhirnya saya yang mengisikan data beberapa peserta perjalanan dinas lewat satu account saja. Ini sudah pasti mempunyai rugi dan keuntungan. Keuntungannya ialah cukup membuat satu account saja di program eHAC. Seseorang yang mempunyai account ialah wisatawan khusus dan selebihnya jadi penganut dengan status yang disamakan, apa keluarga, travel agent atau kenalan. Kekurangannya ialah, di saat antre keluar lapangan terbang tujuan, peserta yang datanya berada di program itu seharusnya harus berendengan. Bila terpisah, maka perlambat proses antre keluar. Kasian yang ngantri ada di belakang kita.

  1. Siapkan Waktu Untuk Mengantre dan Cek In di Lapangan terbang

Traveling di zaman new normal memang berbeda. Dahulu kita dapat datang di lapangan terbang selambatnya sejam saat sebelum berangkat. Itu belum cek in, belum masukkan bagasi. Saat ini, nanti dulu Markonah! Wisatawan minimal harus ada di lapangan terbang paling lamban dua sampai tiga jam sebelumnya. Antrean yang mengular, proses pengujian beberapa surat untuk ijin terbang dan proses cek in juga sekarang membutuhkan surat rapid tes yang telah dilegalisir segala.

Walau ada peluang dipersilakan menggunting antrean untuk penerbangan yang telah sejam kembali akan boarding, tapi tetap ada peluang terlambat pada bagian cek in penerbangan especially bila kamu punyai bagasi. So, make sure to spare some time.

  1. Bawa Masker dan Hand Sanitizer

Ini penting, PENTING BANGET! Ada di dalam ruang tertutup ber AC sepanjang kurang lebih 2 sampai 3 jam di pesawat, bahkan juga di ruangan tunggu lapangan terbang, kita ingin tidak ingin bersama dengan beberapa kumpulan beberapa orang yang belum pasti perduli dengan prosedur kesehatan. Banyak orang memang bawa masker, tetapi memakainya secara benar dan baik belum tentu. Tidak seluruhnya orang pada kondisi sehat.

Walau tidak dipertunjukkan, bisa saja karena takut digeret ke ruangan karantina, ada pula loh wisatawan yang pilek dan batuk. Mereka tidak semua merintangi batuk dan bersinnya dari beberapa orang dengan tutupi dengan tissue atau masker. Semakin banyak bersin dan batuk sesukanya saja, justru buka maskernya. Tangan juga tidak dibikin bersih setelahnya. Jadi, kita yang betul-betul ekstra berhati-hati dengan selalu menjaga jarak, memakai masker, tukar masker apabila sudah batuk, bersin atau telah lebih dari 8 jam. Seringkali bersihkan tangan atau bersihkan dengan hand sanitizer. It seems a little paranoid, but believe me it helps.

Nach, itu ia 5 hal yang penting disiapkan saat traveling di zaman new normal berdasar pengalaman aku. Kamu punyai pengalaman ? Yok, sharing panduan kamu di kotak kometar!

Leave a Reply

Your email address will not be published.