Work From Home dari Pandangan Anak Rantau Idol

Di tengah-tengah semua kebatasan gerak di jaman yang secara cepat ini, ada beberapa juga rekonsilasi yang perlu dilaksanakan. Terutama bagi perantau di Ibu-kota, selainnya dituntut untuk taat pada peraturan pengaturan covid, masalah tugas harus usai secara bersamaan. Sampai munculah peraturan Work From Home (WFH). Tetapi, apa peraturan ini efisien dan efektif untuk seluruh pihak yang turut serta didalamnya?

Sebagai satu dari beberapa ribu perantau yang lain di Jakarta, tugas saya memang tidak pernah dapat usai cukup dengan WFH. Ada banyak kasus yang mengharuskan saya untuk berjumpa client, mengevaluasi tugas lapangan, sampai penuntasan administrasi tugas lainnya.

Oh iya, kembali lagi ke pertanyaan barusan, apa peraturan WFH ini ialah peraturan terbaik? Well, saya pikir jawabnya ialah tidak semutlak putih ya dan hitam. Tetapi, ada banyak hal yang hendak saya bagi lewat artikel ini dari sudut pandang perantau yang hidup sendiri. Mengenai bagaimana sukai dukanya jalani WFH yang mungkin saja dirasa rekan-rekan lainnya.

Entahlah factor umur ataulah bukan, gejala-gejala sakit di sekujur badan ini kerap kali muncul. Di satu dua jam pertama WFH dapat disebut aman saja, tetapi sesudahnya, punggung rasanya mulai rindukan empuknya sandaran kasur. Atau, kaki yang mulai dikerumuni juta-an semut tidak berlagak, yang bahasa non-medisnya ialah kesemutan. Belum juga, leher yang rasanya telah seperti jerapah yang seakan-akan memanjang karena terus menerus menyesuaikan ke ketinggian monitor netbook.

Satu perihal yang jelas, semua kesakitan ini didukung oleh WFH yang beralas keramik, meja netbook portable yang luasannya cukup hanya untuk tetikus saja dan netbook. Lalu, hal leher, hmm, tinggi dari meja imut ini yang tidak sejajar dengan bentuk badan saya. Akhirnya, leher saya yang diwajibkan runduk ke monitor netbook.

Beberapa lalu, telah terpikir sebetulnya untuk investasi pada perlengkapan yang mendukung keperluan WFH ini. Tetapi apa daya, ruangan kost yang tidak mencukupi, dan karakter nomaden saya cukup buat jadi argumen mengapa sampai saat ini saya masih memercayakan perlengkapan seadanya. Not to mention, harga yang mahal untuk anak kosan.

Elemen termahal untuk tetap bertahan di Jakarta versus saya ialah ongkos kosan. Rerata harga kost di jakarta sekitar di angka 1,2 sampai 2,5 juta. Dengan catatan, umumnya di kisaran harga ini, sarananya telah terhitung AC dan kamar mandi dalam (exclude listrik). Dua sarana yang saya pikir harus dipunyai kost di kota yang siang harinya teramat panas seperti neraka bocor ini.

Selainnya dua sarana barusan, jarak atau capaian di antara kost dengan halte/stasiun umumnya ikut juga peran dalam tentukan biaya kosan. Dasarnya, untuk perantau yang tidak mempunyai motor individu dan jaraknya jauh dari halte busway/stasiun, seharusnya banyak-banyak mengucapkan syukur dan diam diri di dalam rumah saja.

Untung, kost saya termasuk dekat sama halte busway, cukup jalan kaki 6-8 menit, saya bisa menelusuri ibu-kota dengan TransJakarta. Tetapi bukan untuk transportasi ke kantor, karena terhitung restricted tempat dan tidak ada service angkot/Transjakarta.

Yang lebih kronis minusnya dari kost saya ialah saya harus mengorbakan mata. Eh, apa hubungan?

Sebagian besar kost bujet di Jakarta dijepit oleh beberapa rumah padat warga. Mengakibatkan, kamar akan jarang memperoleh penerangan alami. Cukup sangat jarang dan jika ada, sudah tentu harga akan berlainan sama yang betul-betul terisolasi dari pancaran cahaya matahari. Misalnya kost saya ini, yang jika dari dalam benar-benar susah membandingkan apa hari telah masih gelap atau siang. Akhirnya, lampu kamar selalu dihandalkan 24/7.

Nach, saya pikir berikut pemicu mengapa mata saya cukup kerap alami kelelahan. Karena mata seakan-akan tidak dapat membandingkan kapan saatnya istirahat, rasanya kok siang terus menerus yang mengakitbatkan mata seperti bekerja rodi.

Seminggu lalu, untung ada kiriman ring light + meja netbook mini dari kantor, cukup terlambat bila berkaca waktu awalnya wabah, but it’s a good move! Still, tidak ada yang dapat gantikan sehatnya penerangan alami, especially for a long run.

Pada awal peraturan WFH pada Maret 2020 lalu, ada peraturan pinjaman netbook. Sayang, umurnya tidak lama. Berlalu beberapa waktu saja, netbooknya harus dibalikkan karena ada rumor akan diberi unit baru. Tetapi, sampai saat ini masih tidak ada kabarnya.

Sebagai tool(s) khusus dalam bekerja, netbook saya yang umurnya tidak muda kembali (lebih dari enam tahun) pada akhirnya tinggalkan dunia ini untuk selamanya. Selainnya dipaksakan lari untuk jalankan beberapa program berat seperti autocad, sketchup, enscape, adobe, dan lain-lain, model stand by dalam peraturan WFH ini ikut menyumbangkan ketidakberhasilan operasi.

Jam 08.00-16.00 digunakan untuk bekerja, jam 19.00-22.00 masih digunakan kembali untuk peningkatan diri sang pemakai. Tidaklah aneh memang jika umurnya tidak lama. Belum juga menyinggung ada panggilan pada malam hari, atau diakhir minggu, dasarnya harus stand by!

Menyinggung listrik, ada banyak hal yang ikut menambahkan cost. Bukan hanya di tools seperti netbook, ring light, tetapi juga lampu, sampai penyumbang beban terbesar ialah AC. Walau demikian, saya masih mengucapkan syukur, dibanding dengan kost lama, token PLN di kost saat ini terhitung lebih murah. Kurang lebih 100K dapat bertahan sampai 10 harian lah.

Kasus internet, semenjak tengah 2020 jika tidak salah, ada tambahan stimulan untuk akses internet. Lebih dari cukup buat menukar beban koneksi internet sepanjang WFH. Andaikan tupoksi saya cuman didesain, kemungkinan stimulan ini akan dirasakan kurang. Bayangin, produk dari design umumnya mempunyai file size yang besar, belum juga masalah revisi-revisi dan ada video sampai materi presentasi.

Dari beberapa poin di atas, peraturan WFH ini akan dapat semakin optimal bila ada banyak rekonsilasi lagi. Ingat bekerja ialah sebuah proses bolak-balik di mana perusahaan bayar karyawan atas waktu pekerjanya dan kapabilitas. At the end of the day, buruk baiknya peraturan WFH ini saya pikir tidak stop di sini. Masih tetap ada segi psikologi yang hendak jadi pemikirannya, bagaimana proses publikasi pegawai, penyesuaian dengan nilai dan budaya perusahaan, sampai integratif setiap tugas yang proses digitalnya masih setengah-setengah ini.

Bagaimana dengan kalian? Apa ada yang kerap kesemutan ?

Leave a Reply

Your email address will not be published.